Interview-1
Tya telah banyak melalui berbagai tes wawancara (he.. ketauan banyak gagalnya).
Tapi baru kali ini tya mengalami wawancara yang “lain”. Lain dalam arti tidak formal seperti biasanya. Sang pimpinan sedang me-rekrut (boleh gini tulisnya?) calon sekretaris yang akan mendampinginya bekerja, atau lebih tepatnya lagi, menitipkan pekerjaannya. Mengapa menitipkan pekerjaan? Karena sang pemimpin seorang yang sangat sibuk, punya berbagai usaha sampingan lain, maka sang sekretaris lah yang akan dipercayakannya untuk dititipkan pekerjaannya.
Trus yang “lain”nya dimana?
Gimana gak lain? Tya udah persiapan dengan menghafal profil perusahaan, mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan sekretaris, tapi… tidak ditanya sama sang pemimpin. Malah ia menanyakan hal lain yang lebih pribadi -_-‘ (eits,gak yang macem-macem atau gimana-gimana lho ya!).
Ternyata setelah wawancara atau bisa dikatan sebagai “curhat sekaligus mencari jalan keluar” itu, tya tau masalahnya. Ia sangat sangat kecewa+frustasi+sedih karena sekretarisnya yang lama tiba-tiba berhenti dengan alasan menikah. Sang pemimpin sangat menyanjung mantan sekretarisnya itu yang membuat tya berpikir, ia harus mendapat orang yang lebih baik atau paling tidak sama seperti sekretarisnya yang lama.
Semoga sang pimpinan itu bisa mendapatkan apa yang ia cari ya…
Tya baru sadar, betapa sekretaris memiliki peranan yang sangat penting. Betapa bergantungnya sang pemimpin kepada sekretaris. Betapa besarnya pengaruh kemajuan bisnis yang dijalani sang pemimpin hanya karena sekretaris.
Jadi, yang ingin tya sampaikan disini adalah, bila teman-teman ada dalam posisi sekretaris, jadilah sekretaris yang baik. Seorang sekretaris haruslah seorang yang penyayang, maka ia akan “menyayangi” pimpinannya demi perusahaan.







0 Response to "Interview-1"
Post a Comment